“Sini duduk.”

“Di mana.”

“Di sebelah mang bakso! Ya, di sebelahku lah.”

Aku tersentak, hati lebih daripadanya. Dengan cepat otakku melahap perintah, membandarkan satu dua buah kata ke pergerakan. Aku menurut tapi tidak dengan cara tunduk. Memang benar aku duduk, cuma jaraknya enggan terlalu dekat. Tak apa lah, Ibu saja sering kulanggar. Yang ini cuma bocah tua sudah berani jadikan aku pesuruh. Huh.

Buat apa sih duduk berdua? Aku merutuk, macam pelaminan, emangnya mau dikawinkan apa.

Namanya Timur, sering disebut di catatan absen harianku. Catatan itu catatan khusus, buat orang-orang yang sering buat janji tapi tidak ditepati. Sudah beberapa lembar halaman, dia menduduki peringkat teratas.

1. Menonton bareng (Tidak dilakukan.)
2. Buat Milo garing (Yang ini adrenalin, pakai setrika panas. Yaiyalah. Mana ada setrika dingin. Ada sih, di kutub utara.)
3. Jujur-jujuran di jam tiga pagi.
4. Sayang sama aku buat jangka panjang (Belum bisa dibuktikan. Tunggu aja.)

Dia memandang, aku tidak bergeming. “Jangan ngelamun.”

“Gak ngelamun, itu ada pemandangan, ya aku tatap.”

“Ya ya terserah.”

Lagi-lagi aku melamun. Mengudarakan banyak hal. Sudah selang beberapa bulan aku digenangi memori. Memori yang cukup berwarna, tenang saja. Bersenda gurau, bertukar pikiran, bicara juga menjedanya (Iya berantem)

Diambil waktu masih tiga bulan pacaran.

Ini hadiah dari bulan April. Gak perlu dibuka, cuma perlu ditatap. Iya, ini Cece. Udah lihat?

Halo, My Big-max Papi. 🧸🎈

28. Malam ke berapa.

Kala itu menanti sudah jadi sereal di kehidupan nyata. Perasaannya dicampur aduk, dilahap tuntas. Kenyang? Tidak. Menanti tetap menjadi kesukaan. Dan malam itu, kesukaraanku pula tidak berhenti, katanya yang ditunggu harus bergegas mengunjungi dahulu. Maka, kutunggu dan terus menunggu. Sampai jam duabelas malam saja. Biasanya kamu sering bilang, duabelas malam sudah cukup menjadi pengakhir.

Kamu pulang dengan terengah-engah. Nampaknya, kamu juga menyantap kerinduannya. Sudah menjadi racun, sereal bermerek ‘Rindu Pacar’ dipasarkan layak narkoba. Hina. Di sana aku terlelap, di sana kamu memandang.