Halo, My Big-max Papi. šŸ§øšŸŽˆ

28. Malam ke berapa.

Kala itu menanti sudah jadi sereal di kehidupan nyata. Perasaannya dicampur aduk, dilahap tuntas. Kenyang? Tidak. Menanti tetap menjadi kesukaan. Dan malam itu, kesukaraanku pula tidak berhenti, katanya yang ditunggu harus bergegas mengunjungi dahulu. Maka, kutunggu dan terus menunggu. Sampai jam duabelas malam saja. Biasanya kamu sering bilang, duabelas malam sudah cukup menjadi pengakhir.

Kamu pulang dengan terengah-engah. Nampaknya, kamu juga menyantap kerinduannya. Sudah menjadi racun, sereal bermerek ā€˜Rindu Pacar’ dipasarkan layak narkoba. Hina. Di sana aku terlelap, di sana kamu memandang.

Leave a comment